Jika buyut moyangku tidur
Jadi kakek dan nenekku
Jadi ayah dan ibu
Dan jika ayah dan ibu tidur
Jadi sebiji kepala yaitu kepalaku
Nggak jadi apa-apa
Yang jadi cuma beberapa pasang kecoak
Di kolong tempat tidurku
Di atas sprai belang-bentong kasurku
Walaupun mereka itu kecoak dan kutu
Tetapi mereka tetap darah dagingku
Maka dari itu saya minta dengan amat sangat
Bernama kecoak Idih Amin
Lahir di Cengkareng
Matanya sedikit jereng
Kalau berjalan seperti gareng
Tapi maklum, Si Amin kebal kerangkeng
Aku benci, aku benci sama Si Amin
Habis Si Amin suka nempeleng
Tapi cuma berani sama tukang kacang goreng
Itu dulu sejuta tahun yang lalu
Perempuan, lho!
Cantik, molek, manja, seksi
Minum jamunya wah jangan ditanya
Dari jamu galian singset sari rapet
Sampai jamu terlambat datang bulan
Tak pernah ketinggalan
Putriku cantik, putriku molek
Putriku pandai memasak
Dari bistik, sepageti, panggang ayam
Capcai goreng, udang rebus
Sampai rendang jengkol
Tapi mengapa belum juga datang lamaran?
Putriku mempunyai dua kekurangan
Yang mungkin itu sebabnya
Putriku vakum dalam dunia percintaan
Putriku memang anggun
Tapi sayang kepala putriku sebesar bola kasti
Itu satu dan yang kedua
Putriku tidak boleh kena air
(Gua tahu dia alergi) bukan!
(Kutu air) bukan!
(Ambeien) bukan, ambeien masa kena air
Ayan
Nana nana nana nana nanana...
Pemain sepak bola
Pernah dikirim berguru
Atau dikirim tamasya ke Brazilia
Enam bulan di sana
Begitu pulang kok keok
Eh, kalah semua